Jumat, 03 Agustus 2018

Catanan Kuliah kedokteran Hewan

Tahun 2008 aku masuk di fakultas kedokteran hewan UGM, alhamdulillah tepat 3 tahun 10 bulan aku bisa nggondol gelar sarjana, abis tu langsung tanpa basa basi aku langsung daftar PPDH (program profesi dokter hewan),  ikut tes seleksi, dan alhamdulillah ikut ujian sekali langsung lulus.

FYi, koasistensi atau lebih akrab dibilang ‘koas’, adalah tahapan yang harus dilalui seorang sarjana kedokteran, kedokteran hewan, ked gigi biar dapet gelar ‘dokter’. Lama waktunya relatif, dibandingin sama kedokteran2 yang lain, koas di kedokteran hewan emang paling cepet, yaitu Cuma setahun, ditambah 2 bulan KKN. Emang koas di KH UGM itu unik, KKN baru dilaksanain setelah selese ato hampir selese koas-nya, trusnya kita KKN bareng mhsw fakultas lain yang 2 tahun lebih muda :).

Tentang biaya, koas di KH UGM juga lebih murah dibandingkan sama FKH unggul yg lain di Indo seperti IPB sama UNAIR. Selama menempuh koas atau lebih kerennya PPDH (Program Profesi Dokter Hewan) biaya SPP per SKS Rp 75000, dan selama koas satu tahun itu total ada 24 sks, jadi untuk SPP dikenakan biaya  Rp 1.800.000, sedangkan BOP seperti program sarjana, per semester masih Rp 540.000 (+GMC). Biaya SPP dibayar semua diawal, nanti per semester kita masih bayar BOP, kalo mau KKN juga masih bayar sekitar sejuta-an. Ga perlu begitu khawatir kok masalah biaya, beasiswa PPA/BBM dr Univ masih berlaku kok buat mahasiswa koas, ada juga beasiswa ikatan dinas dr perusahaan swasta yang rekruitmen tiap tahun.. :D.

Tapi yang jadi masalah adalah, biaya koas yang lebih murah juga sedikit membatasi fasilitas2 yang diperoleh selama menjalani pendidikan profesi/koas. Ga heran kalo selama koas biaya2 buat beli hewan probandus bedah, bahan & alat praktek/pemeriksaan, biaya menginap pas tugas di luar kota, transport dll semua ditanggung sendiri oleh mahasiswa.

Trus, apa sih yang dilakuin selama koas dokter hewan itu? nah, karena dokter hewan itu ga Cuma ngurusi satu spesies aja kayak manusia, tapi harus bisa nanganin semua hewan mulai dari hewan kecil kayak anjing, kucing, juga hewan besar kayak sapi, lalu juga harus tahu tentang unggas, makanya koas profesi dokter hewan harus pindah-pindah tempat terus biar bisa menguasai semuanya.


Kalo di FKH UGM, program profesinya pake sistem dibikin bagian-bagian yang sesuai dengan konsentrasi bidangnya, semua ada enam bagian, yaitu diganosa laboratorik (kerjaannya di lab), interna kecil (kerjannya di RSH sama klinik hewan ngurusi anjing kucing), interna besar (kerjaannya di Poskeswan ngurus ternak sapi sama di Bonbin ngurusin satwa2 liar ruminansia), bedah (terutama untuk bedah anjing,kucing), reproduksi (konsentrasi ngurusi aspek reproduksi hewan ternak/kesayangan), sama kedinasan (kerjaannya kayak magang di dinas keswan sama karantina hewan). tiap bagian harus dilewatin, masg2 bagian dilalui 7 minggu ga boleh lebih, dan di akhir bagian ada ujian seminar/lisan/tulisan. (info lengkap bisa dibaca di ppdh.fkh.ugm.ac.id atau imakahi.wordpress.com)

nah, kalo aku sekarang ni baru nglewatin satu bagian (maklum, masih maba, hihi), yaitu bagian diagnosa laboratorik. Bagian ini terkenal di kalangan mahasiswa koas FKH UGM dari jaman nenek moyang sebagai bagian tersulit dan terseram. Kenapa bisa gitu?


Sesuai sama judulnya, koas bagian diagnosa laboratorik  (bahasa keren –kodil-) ini menggembleng mahasiswa koas biar menguasai dan bisa mendiagnosa suatu penyakit hewan berdasarkan analisa laboratorium. Mahasiswa diwajibkan memperoleh minimal dua buah kasus penyakit hewan dari peternakan atau hewan milik masyarakat, dilakukan anamnesa, pemeriksaan gejala klinis, bedah bangkai, lalu dianalisa di empat lab sekaligus, yaitu lab patologi, lab mikrobiologi, lab parasitologi, dan lab patologi klinik. Proses analisa dilakukan sendiri dengan fasilitas yang tersedia di lab dan harus bisa dipertanggungjawabkan.

Inilah letak susahnya, kalau di koas bagian lain diagnosa penyakit biasanya hanya berdasarkan pemeriksaan fisik ga sampe dibedah bangkai dan biasanya hanya melibatkan satu atau dua laboratorium (itu juga diperiksain orang), di kodil kita harus nyelesein empat lab ini sendiri, mikir sendiri seilmiah mungkin, kerja sendiri, dan tiap konsul sama dosen harus bisa mempertanggungjawabkan atas apa yang sudah atau akan dikerjakan. Apalagi dengan waktu yang hanya 7 minggu selesai dengan dua macam kasus, merupakan suatu perjuangan yang luar biasa untuk bisa tepat waktu.

Aku dulu selesai kodil dalam waktu 7 minggu tepat, tepat hari terakhir (hari jumat minggu ketujuh) ditutup dengan selesainya pemeriksaan mikrobiologi. Kasus yang aku ambil adalah infeksi Riemerella anatipestifer pada bebek (tanpa ada infestasi parasit). Ini juga aku sempet ngulang nekropsi karena yg sebelumnya ayam yg aku duga sakit ternyata setelah dibuka organnya sehat2 aja (hal ini sering terjadi di kodil, bahkan temanku ada yang nekropsi sampe 4 kali). 

Awal cari kasus ini, aku dapet informasi dari salah seorang teman yang koas dinas di daerah Bantul kalo di sekitar Pantai Samas ada wabah penyakit pada bebek, aku langsung capcus kesana, memang di sana ada beberapa peternakan bebek yang terkena wabah. Salah satu peternakan yang aku ambil bebeknya adl milik Bapak Sumardji, dari 355 ekor bebek anakan umur 1 bulan, hampir semua terserang penyakit, kebanyakan mati dan sisa 14 ekor dengan gejala tortikolis. Waktu itu aku sebenernya langsung mikir kalo ini infeksi virus (antara AI atau ND), agak ragu mau ngambil mengingat isolasi virus itu agak riskan tingkat keberhasilannya apalagi yang ngerjain masih selevel anak koas seperti aku. Tapi tak apalah, udah jauh-jauh masa ga diambil. Sampe kampus, cepet2 darah bebek aku ambil, simpan di EDTA, dan dibuat preparat apus. Takutnya besok pagi sudah mati.
 

Bagian kodil ditutup dengan ujian seminar, yang juga terkenal sebagai ujian paling menyeramkan dari semua ujian di bagian koas. Bahkan ada lelucon, kalo udah berhasil tamat sampe ujian seminar kodil dengan hasil yg bagus berarti udah jadi dokter hewan, bagian2 koas yg lain udah kayak kerikil tinggal dilewatin. Ujian seminar kodil ni paling banyak yang telat, jadwal ujian harusnya dilaksanakan pada minggu keenam dan ketujuh koas di kodil, tapi kebanyakan dan seringnya pemeriksaan belum selese pd mnggu2 tersebut, akhirnya ujian dilaksanakan pada minggu kedelapan atau waktu2 yg lain saat ada waktu, yang penting sebelum yudisium harus udah ujian. telat ujian Ini disebut dengan DO (Diluar Orbit), karena telat maka ujian harus bayar ‘denda’ 100ribu.. akupun kemarin ujian 2 minggu setelah kodil selese, ya bayar 100ribu..tapi Alhamdulillah lancar dengan hasil yg sangat memuaskan..:D. dan yang penting, pas masuk bagian koas yang lain, hati sudah tentram.. kalo udah telat, cari waktu kadang juga susah, soalnya ujian kodil ni Cuma dilaksanain hr senin sama jumat dan peserta Cuma 4-6 orang kodilis..apalagi jadwal koas bagian lain juga padat merayap. Pokoknya kalo ujian kodil ni kalo bisa jangan diundur2 terus, kalo belum siap ya harus segera disiapkan, harus segera kalo ga mau mundur jadwal pelantikan dokter hewannya..

Yah apapun itu, apapun bagian koas, entah kodil, interna kecil, dan sebagainya kita harus berusaha sekuat tenaga, belajar keras, dan berdoa. Semua pengen jadi dokter hewan yang berkompeten, semua juga ingin berguna bagi mayarakat dan bangsa ini dengan jalan profesi ini.

semoga tulisan ini bermanfaat..amiin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar