Tahun 2008
aku masuk di fakultas kedokteran hewan UGM, alhamdulillah tepat 3 tahun 10
bulan aku bisa nggondol gelar sarjana, abis tu langsung tanpa basa basi aku
langsung daftar PPDH (program profesi dokter hewan), ikut tes seleksi, dan alhamdulillah ikut ujian sekali langsung lulus.
FYi, koasistensi
atau lebih akrab dibilang ‘koas’, adalah tahapan yang harus dilalui seorang
sarjana kedokteran, kedokteran hewan, ked gigi biar dapet gelar ‘dokter’. Lama waktunya
relatif, dibandingin sama kedokteran2 yang lain, koas di kedokteran hewan emang
paling cepet, yaitu Cuma setahun, ditambah 2 bulan KKN. Emang koas di KH UGM
itu unik, KKN baru dilaksanain setelah selese ato hampir selese koas-nya,
trusnya kita KKN bareng mhsw fakultas lain yang 2 tahun lebih muda :).
Tentang biaya,
koas di KH UGM juga lebih murah dibandingkan sama FKH unggul yg lain di Indo seperti
IPB sama UNAIR. Selama menempuh koas atau lebih kerennya PPDH (Program Profesi
Dokter Hewan) biaya SPP per SKS Rp 75000, dan selama koas satu tahun itu total
ada 24 sks, jadi untuk SPP dikenakan biaya Rp
1.800.000, sedangkan BOP seperti program
sarjana, per semester masih Rp 540.000 (+GMC). Biaya SPP dibayar semua
diawal, nanti per semester kita masih bayar BOP, kalo mau KKN juga masih
bayar
sekitar sejuta-an. Ga perlu begitu khawatir kok masalah biaya, beasiswa
PPA/BBM
dr Univ masih berlaku kok buat mahasiswa koas, ada juga beasiswa ikatan
dinas dr
perusahaan swasta yang rekruitmen tiap tahun.. :D.
Tapi yang
jadi masalah adalah, biaya koas yang lebih murah juga sedikit membatasi
fasilitas2 yang diperoleh selama menjalani pendidikan profesi/koas. Ga heran
kalo selama koas biaya2 buat beli hewan probandus bedah, bahan & alat praktek/pemeriksaan,
biaya menginap pas tugas di luar kota, transport dll semua ditanggung sendiri
oleh mahasiswa.
Trus, apa
sih yang dilakuin selama koas dokter hewan itu? nah, karena dokter hewan itu ga
Cuma ngurusi satu spesies aja kayak manusia, tapi harus bisa nanganin semua
hewan mulai dari hewan kecil kayak anjing, kucing, juga hewan besar kayak sapi,
lalu juga harus tahu tentang unggas, makanya koas profesi dokter hewan harus
pindah-pindah tempat terus biar bisa menguasai semuanya.
Kalo
di FKH UGM, program profesinya pake sistem dibikin bagian-bagian yang
sesuai dengan konsentrasi bidangnya, semua ada enam bagian, yaitu
diganosa laboratorik (kerjaannya di lab), interna kecil (kerjannya di
RSH sama klinik hewan ngurusi anjing kucing), interna besar (kerjaannya
di Poskeswan ngurus ternak sapi sama di Bonbin ngurusin satwa2 liar
ruminansia), bedah (terutama untuk bedah anjing,kucing), reproduksi
(konsentrasi ngurusi aspek reproduksi hewan ternak/kesayangan), sama
kedinasan (kerjaannya kayak magang di dinas keswan sama karantina
hewan). tiap bagian harus dilewatin, masg2 bagian dilalui 7 minggu ga
boleh lebih, dan di akhir bagian ada ujian seminar/lisan/tulisan. (info
lengkap bisa dibaca di ppdh.fkh.ugm.ac.id atau imakahi.wordpress.com)
nah,
kalo aku sekarang ni baru nglewatin satu bagian (maklum, masih maba,
hihi), yaitu bagian diagnosa laboratorik. Bagian ini terkenal di
kalangan mahasiswa koas FKH UGM dari jaman nenek moyang sebagai bagian
tersulit dan terseram. Kenapa bisa gitu?
Sesuai sama judulnya, koas
bagian diagnosa laboratorik (bahasa keren –kodil-)
ini menggembleng mahasiswa koas biar menguasai dan bisa mendiagnosa suatu
penyakit hewan berdasarkan analisa laboratorium. Mahasiswa diwajibkan memperoleh
minimal dua buah kasus penyakit hewan dari peternakan atau hewan milik
masyarakat, dilakukan anamnesa, pemeriksaan gejala klinis, bedah bangkai, lalu
dianalisa di empat lab sekaligus, yaitu lab patologi, lab mikrobiologi, lab
parasitologi, dan lab patologi klinik. Proses analisa dilakukan sendiri dengan
fasilitas yang tersedia di lab dan harus bisa dipertanggungjawabkan.
Inilah letak susahnya, kalau di koas bagian lain diagnosa penyakit
biasanya hanya berdasarkan pemeriksaan fisik ga sampe dibedah bangkai dan
biasanya hanya melibatkan satu atau dua laboratorium (itu juga diperiksain
orang), di kodil kita harus nyelesein empat lab ini sendiri, mikir sendiri seilmiah mungkin, kerja sendiri, dan
tiap konsul sama dosen harus bisa mempertanggungjawabkan atas apa yang sudah
atau akan dikerjakan. Apalagi dengan waktu yang hanya 7 minggu selesai dengan
dua macam kasus, merupakan suatu perjuangan yang luar biasa untuk bisa tepat
waktu.
Aku dulu selesai kodil dalam waktu 7 minggu tepat, tepat hari terakhir
(hari jumat minggu ketujuh) ditutup dengan selesainya pemeriksaan mikrobiologi.
Kasus yang aku ambil adalah infeksi Riemerella
anatipestifer pada bebek (tanpa ada infestasi parasit). Ini juga aku sempet
ngulang nekropsi karena yg sebelumnya ayam yg aku duga sakit ternyata setelah
dibuka organnya sehat2 aja (hal ini sering terjadi di kodil, bahkan temanku ada
yang nekropsi sampe 4 kali).
Awal cari kasus ini, aku dapet informasi dari salah seorang teman yang
koas dinas di daerah Bantul kalo di sekitar Pantai Samas ada wabah penyakit
pada bebek, aku langsung capcus kesana, memang di sana ada beberapa peternakan bebek
yang terkena wabah. Salah satu peternakan yang aku ambil bebeknya adl milik
Bapak Sumardji, dari 355 ekor bebek anakan umur 1 bulan, hampir semua terserang
penyakit, kebanyakan mati dan sisa 14 ekor dengan gejala tortikolis. Waktu itu
aku sebenernya langsung mikir kalo ini infeksi virus (antara AI atau ND), agak
ragu mau ngambil mengingat isolasi virus itu agak riskan tingkat
keberhasilannya apalagi yang ngerjain masih selevel anak koas seperti aku. Tapi
tak apalah, udah jauh-jauh masa ga diambil. Sampe kampus, cepet2 darah bebek
aku ambil, simpan di EDTA, dan dibuat preparat apus. Takutnya besok pagi sudah
mati.
Bagian
kodil ditutup dengan ujian seminar, yang juga terkenal sebagai
ujian paling menyeramkan dari semua ujian di bagian koas. Bahkan ada
lelucon,
kalo udah berhasil tamat sampe ujian seminar kodil dengan hasil yg bagus
berarti udah jadi dokter hewan, bagian2 koas yg lain udah kayak kerikil
tinggal
dilewatin. Ujian seminar kodil ni paling banyak yang telat, jadwal ujian
harusnya dilaksanakan pada minggu keenam dan ketujuh koas di kodil, tapi
kebanyakan dan seringnya pemeriksaan belum selese pd mnggu2 tersebut,
akhirnya
ujian dilaksanakan pada minggu kedelapan atau waktu2 yg lain saat ada
waktu,
yang penting sebelum yudisium harus udah ujian. telat ujian Ini disebut
dengan DO
(Diluar Orbit), karena telat maka ujian harus bayar ‘denda’ 100ribu..
akupun
kemarin ujian 2 minggu setelah kodil selese, ya bayar 100ribu..tapi
Alhamdulillah
lancar dengan hasil yg sangat memuaskan..:D. dan yang penting, pas masuk
bagian koas yang lain, hati sudah tentram.. kalo udah telat, cari waktu
kadang juga susah, soalnya ujian kodil ni Cuma dilaksanain hr senin
sama jumat dan peserta Cuma 4-6
orang kodilis..apalagi jadwal koas bagian lain juga padat merayap.
Pokoknya kalo ujian kodil ni kalo
bisa jangan diundur2 terus, kalo belum siap ya harus segera disiapkan,
harus segera kalo ga mau mundur jadwal pelantikan dokter
hewannya..
Yah apapun itu, apapun bagian koas, entah kodil, interna kecil, dan
sebagainya kita harus berusaha sekuat tenaga, belajar keras, dan berdoa. Semua pengen
jadi dokter hewan yang berkompeten, semua juga ingin berguna bagi mayarakat dan
bangsa ini dengan jalan profesi ini.
semoga tulisan ini bermanfaat..amiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar